Alkisah, ada seorang raja yang pemberani. Suatu hari, ia harus bertarung melawan sekelompok besar pasukan dengan hanya segelintir tentara hingga membuatnya kalah telak. Sampai-sampai ia harus melarikan diri demi menyelamatkan hidupnya.
Sang raja berlindung di dalam sebuah gua hutan. Ia sangat tertekan. Keberaniannya tak bersisa dalam dirinya. Dengan tatapan kosong, ia memandang langit-langit gua itu. Sebuah pemandangan menarik merebut perhatiannya.
Ada seekor laba-laba kecil sedang berusaha menjalin sebuah jaring di langit gua. Ketika laba-laba itu merangkak naik, benang jaringnya putus dan laba-laba itu terjatuh. Tetapi, si laba-laba tidak menyerah. Ia mencoba merangkak naik lagi dan lagi. Akhirnya, ia berhasil naik dan menyelesaikan jaringnya.
Sang raja mulai berpikir, "Jika seekor laba-laba kecil saja mampu menghadapi kegagalan dengan begitu berani, kenapa aku menyerah? Aku akan berusaha sekuat tenaga hingga aku menang." Tekad ini menyuntikkan semangat dan kekuatan yang luar biasa dalam diri sang raja yang kalah.
Sang raja keluar dari hutan dan menghimpun tentara-tentaranya yang gagah berani. Ia bertarung melawan pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar. Karenanya, ia sekali lagi mengalami kekalahan. Tetapi kekalahan kali ini ditanggapinya dengan sikap yang jauh berbeda. Ia tidak mengendurkan semangat bertarungnya dan terus memperbaiki strateginya.
Berulang kali sang raja melawan pasukan yang besar itu dan akhirnya, setelah melakukan upayanya yang kesekian kali ia mampu mengalahkan pasukan sebesar itu dan menguasai kembali kerajaannya. Semuanya ini berkat pelajaran yang diambilnya dari laba-laba di hutan itu.
Kisah sang raja dan laba-laba ini kembali menegaskan bahwa sebuah ketekunan pada sesuatu yang positif bisa membuka jalan menuju kesuksesan besar. Karena itu, jika kita mengimpikan sesuatu atau ingin menjadi seseorang yang ahli di bidang tertentu misalnya, tekunlah memperjuangkan impian itu hingga akhirnya semua yang didambakan bisa tercapai. Luar Biasa! Sumber
11 Apr 2012
10 Apr 2012
Tekad Menentukan Keberhasilan
Kopral Wicaksana mendapat tugas memimpin sepasukan tentara mengejar pasukan pemberontak yang bergerilya di pegunungan. Medannya sangat sulit karena berhutan lebat dan jurang-jurang terjal menganga di mana-mana. Setibanya pasukan di lokasi pemberontak, ternyata mereka tidak menemukan apa pun. Pasukan pemberontak telah melarikan diri ke dalam hutan.
“Sebaiknya kita kembali saja,” usul salah seorang rekan tentara.
“Kamu takut?” tanya Kopral Wicaksana.
“Tidak! Tetapi, di atas kertas agak mustahillah kita menangkap mereka.”
“Ya, kalau kita adalah tentara yang bertugas di atas kertas. Kita sekarang berdiri di atas tanah! Maju terus!!” perintah Wicaksana dengan tegas.
Keberhasilan mencapai cita-cita ditentukan oleh tekad yang mengawalinya. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber
“Sebaiknya kita kembali saja,” usul salah seorang rekan tentara.
“Kamu takut?” tanya Kopral Wicaksana.
“Tidak! Tetapi, di atas kertas agak mustahillah kita menangkap mereka.”
“Ya, kalau kita adalah tentara yang bertugas di atas kertas. Kita sekarang berdiri di atas tanah! Maju terus!!” perintah Wicaksana dengan tegas.
Keberhasilan mencapai cita-cita ditentukan oleh tekad yang mengawalinya. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber
Labels:
Inspirasi
Pantang Menyerah Ala Semut
Sudah sejak lama, kiprah semut selalu menarik perhatian. Saya senang menyaksikan mereka bergotong royong membawa makanan ke sarang. Atau “berjabat tangan” saat saling bertemu di perjalanan. Lucunya.
Suatu kali, saya melihat seekor semut berjalan sendirian di tembok. Iseng-iseng saya letakkan butiran gula, tak jauh dari tempat semut tadi muter-muter. Hap! Umpan saya rupanya terendus oleh penciuman sang semut. Dia mendekati dan mencoba mengangkat butir gula tadi, sendirian. Namun tubuhnya langsung sempoyongan, dan tubuhnya berbalik. Mungkin ia tak kuat menahan beban itu. Saking beratnya, ia terpaksa harus merayap turun dulu, sambil menstabilkan tubuh.
Tapi ia pantang menyerah. Ia tetap berusaha mempertahankan potongan gula itu sekuat tenaga. Setelah sekitar setengah meter merayap turun, dengan susah payah si semut membalikkan lagi tubuhnya ke atas, lalu mengangkat makanannya merayap ke atas. Ya, ia berhasil merayap naik dan terus naik, ke tempat yang seharusnya ia tuju – rumahnya.
Saya amati terus semut itu sampai ditelan atap. Mungkin sekarang ia sedang menikmati makannya, atau membagi-bagi makanan – yang diperolehnya dengan kerja sangat keras dan penuh cucuran keringat – itu bersama teman-temannya.
Terkadang kita mengalami apa yang semut itu alami, dihadapkan pada tugas atau tanggung jawab yang berat. Namun, alangkah baiknya jika dapat belajar dari semut tadi, mencoba bertahan dan pantang menyerah saat dihadapkan pada tugas, pekerjaan, masalah, atau tanggung jawab yang terasa berat. Bukan hanya sekadar mengeluh dan mengeluh.
Pada awalnya sangat sulit dan kadang merasa putus asa, tapi jika kita mampu bertahan dengan gigih dan pantang menyerah, kita akan bisa mengatasi semua itu dan menikmati buahnya. Persis seperti si semut menikmati makanan yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya. Sumber
Suatu kali, saya melihat seekor semut berjalan sendirian di tembok. Iseng-iseng saya letakkan butiran gula, tak jauh dari tempat semut tadi muter-muter. Hap! Umpan saya rupanya terendus oleh penciuman sang semut. Dia mendekati dan mencoba mengangkat butir gula tadi, sendirian. Namun tubuhnya langsung sempoyongan, dan tubuhnya berbalik. Mungkin ia tak kuat menahan beban itu. Saking beratnya, ia terpaksa harus merayap turun dulu, sambil menstabilkan tubuh.
Tapi ia pantang menyerah. Ia tetap berusaha mempertahankan potongan gula itu sekuat tenaga. Setelah sekitar setengah meter merayap turun, dengan susah payah si semut membalikkan lagi tubuhnya ke atas, lalu mengangkat makanannya merayap ke atas. Ya, ia berhasil merayap naik dan terus naik, ke tempat yang seharusnya ia tuju – rumahnya.
Saya amati terus semut itu sampai ditelan atap. Mungkin sekarang ia sedang menikmati makannya, atau membagi-bagi makanan – yang diperolehnya dengan kerja sangat keras dan penuh cucuran keringat – itu bersama teman-temannya.
Terkadang kita mengalami apa yang semut itu alami, dihadapkan pada tugas atau tanggung jawab yang berat. Namun, alangkah baiknya jika dapat belajar dari semut tadi, mencoba bertahan dan pantang menyerah saat dihadapkan pada tugas, pekerjaan, masalah, atau tanggung jawab yang terasa berat. Bukan hanya sekadar mengeluh dan mengeluh.
Pada awalnya sangat sulit dan kadang merasa putus asa, tapi jika kita mampu bertahan dengan gigih dan pantang menyerah, kita akan bisa mengatasi semua itu dan menikmati buahnya. Persis seperti si semut menikmati makanan yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya. Sumber
Labels:
Inspirasi
Belajar Dari Benih Padi
Pak Tani menyelenggarakan upacara selamatan menjelang musim tanam. Ia mengambil sebagian padi untuk hiasan upacara dan sebagian lagi disiapkannya sebagai benih untuk ditanam. Biji padi yang dijadikan benih ternyata cemburu dan berkeluh kesah kepada Pak Tani.
“Pak Tani tidak adil! Mengapa hanya sebagian teman kami yang Bapak pilih untuk dijadikan hiasan? Lihatlah, mereka dikagumi dan dipuji-puji banyak orang, sedangkan kami sama sekali tidak diacuhkan. Pak Tani sungguh tidak adil!”
Pak Tani mendengarkan keluh kesah mereka namun tidak menjawab. Ia malahan segera mengangkut mereka dan melemparkannya ke berbagai penjuru sawah, ke tengah-tengah tanah becek yang kotor. Benih padi semakin sedih.
Beberapa hari kemudian, Pak Tani menjenguk sawahnya dan menyapa benih padi.
“Selamat pagi, Benih Padi. Apa kabarmu?”
“Pak Tani, mengapa kami dibuang ke tanah kotor ini? Apa salah kami? Kami kedinginan dan kepanasan, tapi kaubiarkan kami. Wajah kami kini jadi rusak. Lihat, ada banyak serat akar tumbuh pada tubuh kami. Tolong angkat dan bersihkan kami, Pak Tani!”
“Kutolong kamu, Benih Padi,” jawab Pak Tani. Akan tetapi, Pak Tani tidak juga mengangkat atau membersihkan benih-benih padi itu. Berhari-hari ia tetap membiarkan benih padi tinggal di tanah yang becek dan kotor. Dibiarkannya pula akar yang tumbuh semakin banyak. Bahkan, yang tumbuh bukan hanya akar, melainkan juga batang dan daun. Benih padi semakin kurus kering, akar dan daun semakin lebat, hingga suatu saat benih padi itu lenyap tak berbekas. Sawah itu kini menguning, penuh dengan tanaman padi yang berbulir lebat. Banyak orang mengagumi keindahannya dan banyak orang membutuhkannya. Pak Tani datang menjenguk benih padinya.
“Benih Padi, bagaimana kabarmu hari ini?”
“Pak Tani, terima kasih atas pertolonganmu,” kata benih padi yang kini telah berubah menjadi tanaman yang berbuah lebat.
Bila orang bersedia tumbuh dalam tangan Tuhan, hidupnya akan penuh arti. Bagaimanapun juga, hal itu tidaklah mudah karena menuntut penyangkalan diri. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber
“Pak Tani tidak adil! Mengapa hanya sebagian teman kami yang Bapak pilih untuk dijadikan hiasan? Lihatlah, mereka dikagumi dan dipuji-puji banyak orang, sedangkan kami sama sekali tidak diacuhkan. Pak Tani sungguh tidak adil!”
Pak Tani mendengarkan keluh kesah mereka namun tidak menjawab. Ia malahan segera mengangkut mereka dan melemparkannya ke berbagai penjuru sawah, ke tengah-tengah tanah becek yang kotor. Benih padi semakin sedih.
Beberapa hari kemudian, Pak Tani menjenguk sawahnya dan menyapa benih padi.
“Selamat pagi, Benih Padi. Apa kabarmu?”
“Pak Tani, mengapa kami dibuang ke tanah kotor ini? Apa salah kami? Kami kedinginan dan kepanasan, tapi kaubiarkan kami. Wajah kami kini jadi rusak. Lihat, ada banyak serat akar tumbuh pada tubuh kami. Tolong angkat dan bersihkan kami, Pak Tani!”
“Kutolong kamu, Benih Padi,” jawab Pak Tani. Akan tetapi, Pak Tani tidak juga mengangkat atau membersihkan benih-benih padi itu. Berhari-hari ia tetap membiarkan benih padi tinggal di tanah yang becek dan kotor. Dibiarkannya pula akar yang tumbuh semakin banyak. Bahkan, yang tumbuh bukan hanya akar, melainkan juga batang dan daun. Benih padi semakin kurus kering, akar dan daun semakin lebat, hingga suatu saat benih padi itu lenyap tak berbekas. Sawah itu kini menguning, penuh dengan tanaman padi yang berbulir lebat. Banyak orang mengagumi keindahannya dan banyak orang membutuhkannya. Pak Tani datang menjenguk benih padinya.
“Benih Padi, bagaimana kabarmu hari ini?”
“Pak Tani, terima kasih atas pertolonganmu,” kata benih padi yang kini telah berubah menjadi tanaman yang berbuah lebat.
Bila orang bersedia tumbuh dalam tangan Tuhan, hidupnya akan penuh arti. Bagaimanapun juga, hal itu tidaklah mudah karena menuntut penyangkalan diri. (Merenung Sambil Tersenyum) Sumber
Labels:
Inspirasi
8 Apr 2012
Mengapa Seorang Manusia Harus Bersyukur
Adalah seorang pemuda yang sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Ia berasal dari keluarga yang berada, tampan, memiliki kekasih yang cantik dan tak pernah kekurangan apapun. Suatu ketika, ia lewat di depan sebuah showroom mobil dan kagum terhadap mobil sport merah yang ia dambakan. Ia pun mengungkapkan kekagumannya terhadap mobil itu kepada ayahnya, dengan harapan ayahnya akan menghadiahkan mobil itu saat ia lulus.
Tibalah pada hari kelulusan. Dengan hati yang girang ia menunjukkan bukti prestasinya kepada ayah dan ibunya. Ia yakin, bahwa ayahnya pasti akan membelikan mobil sport kemarin sebagai hadiahnya. "Ya, ayah sudah tahu apa yang aku inginkan..." bisiknya dalam hati.
Sepulang dari acara kelulusan, sang ayah memanggilnya ke dalam sebuah ruangan. Kemudian menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas sederhana dan pita di atasnya. Sang anak terheran-heran, apa gerangan yang ada di dalam kotak tersebut. Pikirannya pun melayang dan berharap sebuah kunci mobil yang ada di dalamnya. Bergegas ia pun membuka, dan langsung kecewa.
Di dalamnya hanya ditemukan sebuah agenda usang milik sang ayah di mana banyak pengalaman hidup dituliskannya. Sang ayah tersenyum dan berharap anaknya bahagia. Namun sang anak marah dan memaki ayahnya dengan kasar. Sejak itu, sang anak pergi meninggalkan rumah dan melanjutkan hidupnya.
Bertahun-tahun sudah ia lewatkan di dalam hidup yang mewah dan bahagia. Sungguh beruntung sang anak karena kepandaiannya membuat hidupnya selalu berkecukupan. Tiba-tiba ia terkejut menerima sebuah kabar, bahwa ia diharuskan segera pulang untuk mengurus semua kematian ayahnya. Ya, ayahnya telah meninggal dunia.
Iapun berkemas dan bergegas menuju kediaman orang tuanya, yang telah ditinggalkan sejak hari kelulusan beberapa tahun silam. Tak ada yang berubah, semua tetap sama, bahkan ruangan tempat ia bertemu dengan ayahnya terakhir kali juga tak berubah sama sekali. Kemudian ia melangkahkan kaki perlahan menuju meja kerja sang ayah. Dilihatnya sebuah kotak kado yang ditolaknya mentah-mentah masih tersimpan rapi di atas meja. Ia lalu membuka kotak tersebut dan bermaksud membaca agenda ayahnya. Namun sebuah amplop jatuh dari dalam agenda. Sang anak memungut amplop tersebut yang ternyata isinya sebuah kunci mobil sport dengan bukti pembelian 'LUNAS' di dalamnya.
Sang anak menangis sejadinya, ia tak pernah menyangka bahwa di dalam agenda usang tersebut sang ayah menyelipkan kunci mobil yang didambakannya. Bahkan ia tak pernah membuka agenda tersebut.
Dan begitu pula kita...
Kita seringkali melewatkan berkah dari Tuhan karena kemasannya tak sesuai seperti yang kita inginkan. Kita berharap menjadi kaya namun menolak sebuah pekerjaan yang dianggap kasar dan menyulitkan, tanpa mencobanya terlebih dahulu. Kita kerap bertindak kasar pada seseorang berparas pas-pasan yang mengajak berkenalan, padahal di dalam hati berharap mendapat pasangan yang baik dan setia. Kita marah karena harta benda ludes terbawa bencana alam, dan menyalahkan Tuhan karena tak memberi perlindungan. Kita marah karena orang yang kita cinta meninggalkan kita...
Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki, karena kita tak pernah tahu ada apa di balik keadaan yang menimpa kita saat ini. Sumber
Tibalah pada hari kelulusan. Dengan hati yang girang ia menunjukkan bukti prestasinya kepada ayah dan ibunya. Ia yakin, bahwa ayahnya pasti akan membelikan mobil sport kemarin sebagai hadiahnya. "Ya, ayah sudah tahu apa yang aku inginkan..." bisiknya dalam hati.
Sepulang dari acara kelulusan, sang ayah memanggilnya ke dalam sebuah ruangan. Kemudian menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas sederhana dan pita di atasnya. Sang anak terheran-heran, apa gerangan yang ada di dalam kotak tersebut. Pikirannya pun melayang dan berharap sebuah kunci mobil yang ada di dalamnya. Bergegas ia pun membuka, dan langsung kecewa.
Di dalamnya hanya ditemukan sebuah agenda usang milik sang ayah di mana banyak pengalaman hidup dituliskannya. Sang ayah tersenyum dan berharap anaknya bahagia. Namun sang anak marah dan memaki ayahnya dengan kasar. Sejak itu, sang anak pergi meninggalkan rumah dan melanjutkan hidupnya.
Bertahun-tahun sudah ia lewatkan di dalam hidup yang mewah dan bahagia. Sungguh beruntung sang anak karena kepandaiannya membuat hidupnya selalu berkecukupan. Tiba-tiba ia terkejut menerima sebuah kabar, bahwa ia diharuskan segera pulang untuk mengurus semua kematian ayahnya. Ya, ayahnya telah meninggal dunia.
Iapun berkemas dan bergegas menuju kediaman orang tuanya, yang telah ditinggalkan sejak hari kelulusan beberapa tahun silam. Tak ada yang berubah, semua tetap sama, bahkan ruangan tempat ia bertemu dengan ayahnya terakhir kali juga tak berubah sama sekali. Kemudian ia melangkahkan kaki perlahan menuju meja kerja sang ayah. Dilihatnya sebuah kotak kado yang ditolaknya mentah-mentah masih tersimpan rapi di atas meja. Ia lalu membuka kotak tersebut dan bermaksud membaca agenda ayahnya. Namun sebuah amplop jatuh dari dalam agenda. Sang anak memungut amplop tersebut yang ternyata isinya sebuah kunci mobil sport dengan bukti pembelian 'LUNAS' di dalamnya.
Sang anak menangis sejadinya, ia tak pernah menyangka bahwa di dalam agenda usang tersebut sang ayah menyelipkan kunci mobil yang didambakannya. Bahkan ia tak pernah membuka agenda tersebut.
Dan begitu pula kita...
Kita seringkali melewatkan berkah dari Tuhan karena kemasannya tak sesuai seperti yang kita inginkan. Kita berharap menjadi kaya namun menolak sebuah pekerjaan yang dianggap kasar dan menyulitkan, tanpa mencobanya terlebih dahulu. Kita kerap bertindak kasar pada seseorang berparas pas-pasan yang mengajak berkenalan, padahal di dalam hati berharap mendapat pasangan yang baik dan setia. Kita marah karena harta benda ludes terbawa bencana alam, dan menyalahkan Tuhan karena tak memberi perlindungan. Kita marah karena orang yang kita cinta meninggalkan kita...
Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki, karena kita tak pernah tahu ada apa di balik keadaan yang menimpa kita saat ini. Sumber
Labels:
Inspirasi
Kekuatan Sebuah Kerja Sama
Dua orang pria yang tinggal di pinggir sebuah hutan berniat untuk membangun rumah. Masing-masing dari pria tersebut bekerja seorang diri, membangun rumah masing-masing tanpa bantuan orang lain. Hingga berbulan-bulan, tidak ada satupun di antara mereka yang berhasil merampungkan rumah tersebut, mereka hanya kuat mengangkut batu-batuan sungai kecil dan diletakkan begitu saja di pinggir hutan. Sebenarnya mereka membutuhkan batu yang lebih kuat sebagai pondasi rumah, tetapi tak ada satupun dari mereka yang kuat membawa batu besar tersebut.Setelah dua pria yang tak saling membantu tersebut hampir putus asa, datang seorang pemburu yang berteduh tak jauh dari tumpukan batu-batu sungai di pinggir hutan.
"Hai kalian berdua," sapa pemburu itu pada dua pria, "Kenapa kalian mengumpulkan banyak batu di pinggir hutan?"
Kedua pria yang selama berbulan-bulan tidak pernah saling menyapa tersebut menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka berniat membangun sebuah rumah. Nyatanya, kemampuan mereka tak cukup untuk mengangkat batu-batu sungai yang cukup besar.
Sang pemburu menggelengkan kepala prihatin, lalu mengatakan, "Kenapa kalian tidak saling bekerja sama? Percayalah, hal itu akan meringankan kerja kalian. Jika masing-masing dari kalian hanya mampu mengangkat batu sungai seberat 20 kg, tetapi dengan kerjasama dari kalian berdua, kalian bisa mengangkat lebih dari 50 kg,"
Kedua pria yang sama-sama membangun rumah saling berpandangan, ide tersebut tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Akhirnya kedua pria tersebut saling bekerja sama membangun dua rumah yang berbeda. Dan benar apa yang dikatakan oleh pemburu itu, mereka bisa mengangkat batu yang beratnya berkali-kali lipat kemampuan mereka. Dengan kerjasama yang baik dan kemauan untuk saling mendengarkan ide masing-masing, kedua pria tersebut berhasil menyelesaikan pembangunan rumah kecil dalam kurun waktu kurang dari setahun.
Sahabat, jangan remehkan kehebatan kerjasama tim. Dengan kemauan untuk saling mendengar, saling berbagi ide dan dengan komando yang tepat, ada banyak hal yang bisa terselesaikan dengan kerjasama. Jadi jangan menolak bila Anda terlibat dalam kerjasama yang melibatkan tim, sebuah pekerjaan bisa terselesaikan dan Anda bisa belajar untuk menghadapi banyak ide dari kepala yang berbeda. Sumber
Labels:
Inspirasi
Jiwa di Balik Setangkai Bunga
Lihatlah bunga-bunga yang bermekaran itu, warnanya indah, kuning, merah, ungu dengan daun hijau yang menopang. Di belakangnya layar lebar langit biru di gelar luas menjadi background seolah semua bunga dan daun itu menempel di atas warna birunya. Sebuah pemandangan yang sangat indah dan sempurna.
Saat menarik dan menghembuskan nafas, apa yang Anda rasakan? Perasaan senang, bahagia, rasa syukur atau biasa saja, tak merasakan apa-apa? Coba pejamkan mata Anda saat ini, tarik nafas perlahan dan hembuskan. Rasakan benar-benar setiap nafas yang masuk dan keluar dari paru-paru melalui saluran tenggorokan dan hidung serta mulut. Terasa ada yang berbeda bukan?
Setiap hal kecil yang Anda alami setiap hari bisa saja selama ini Anda anggap sebagai hal yang biasa. Namun jika Anda mau mencermatinya, setiap hal kecil itu adalah kepingan yang menyusun kebahagiaan di dalam hidup Anda.
Kesibukan dan masalah yang muncul setiap hari bisa saja membuat Anda merasa hidup ini tak berarti dan membosankan. Ada sebuah sisi yang terlewatkan dari pandangan Anda, di mana hidup ini merupakan suatu hal yang menarik.
Setangkai bunga yang mekar di tepi jalan mungkin luput dari pandangan Anda. Hentikan langkah Anda, lihat sekali lagi, ah ternyata setangkai bunga itu ternyata sangat indah. Mulai lagi dari hal kecil lain yang biasanya selalu terlewatkan dari pandangan Anda, bisa Anda lihat kan ternyata banyak hal yang sangat indah di sekitar Anda.
Saat Anda bisa melihat segala hal dari sisi lain, hal-hal kecil khususnya, di situlah hidup ini terasa begitu indah dan menarik. Banyak orang merasa kehilangan jiwa, dan seumur hidup berusaha mencari jiwa itu. Sahabat yang saat ini sedang mencari jiwa, Anda sudah menemukannya! Di balik mekarnya bunga, gemercik air, rumput yang bergoyang tertiup angin, hangatnya sinar matahari, senyum ramah dari seorang penjual nasi. Ketika hidup ini terasa indah dan menarik. Berbahagialah! Anda telah menemukan jiwa Anda. Sumber
Saat menarik dan menghembuskan nafas, apa yang Anda rasakan? Perasaan senang, bahagia, rasa syukur atau biasa saja, tak merasakan apa-apa? Coba pejamkan mata Anda saat ini, tarik nafas perlahan dan hembuskan. Rasakan benar-benar setiap nafas yang masuk dan keluar dari paru-paru melalui saluran tenggorokan dan hidung serta mulut. Terasa ada yang berbeda bukan?
Setiap hal kecil yang Anda alami setiap hari bisa saja selama ini Anda anggap sebagai hal yang biasa. Namun jika Anda mau mencermatinya, setiap hal kecil itu adalah kepingan yang menyusun kebahagiaan di dalam hidup Anda.
Kesibukan dan masalah yang muncul setiap hari bisa saja membuat Anda merasa hidup ini tak berarti dan membosankan. Ada sebuah sisi yang terlewatkan dari pandangan Anda, di mana hidup ini merupakan suatu hal yang menarik.
Setangkai bunga yang mekar di tepi jalan mungkin luput dari pandangan Anda. Hentikan langkah Anda, lihat sekali lagi, ah ternyata setangkai bunga itu ternyata sangat indah. Mulai lagi dari hal kecil lain yang biasanya selalu terlewatkan dari pandangan Anda, bisa Anda lihat kan ternyata banyak hal yang sangat indah di sekitar Anda.
Saat Anda bisa melihat segala hal dari sisi lain, hal-hal kecil khususnya, di situlah hidup ini terasa begitu indah dan menarik. Banyak orang merasa kehilangan jiwa, dan seumur hidup berusaha mencari jiwa itu. Sahabat yang saat ini sedang mencari jiwa, Anda sudah menemukannya! Di balik mekarnya bunga, gemercik air, rumput yang bergoyang tertiup angin, hangatnya sinar matahari, senyum ramah dari seorang penjual nasi. Ketika hidup ini terasa indah dan menarik. Berbahagialah! Anda telah menemukan jiwa Anda. Sumber
Labels:
Inspirasi
Langganan:
Postingan (Atom)








