Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

26 Mei 2012

Maksud Baik Tak Selamanya Baik

  • i
Ada sebuah cerita tentang persahabatan antara seekor kera dan ikan-ikan di sebuah kolam.

Kera senang duduk di atas dahan pohon yang menjulur ke arah kolam sedangkan ikan-ikan senang memunculkan diri ke permukaan air. Mereka telah lama berkenalan dan tiap hari tampak akrab berbincang-bincang.
Pada suatu hari terjadi banjir besar. Kera yang gerakannya cekatan itu segera menyelamatkan diri dengan memanjat pohon tinggi. Tiba-tiba ia teringat akan para sahabatnya di kolam.

Dengan cepat si kera pun turun dari pohon dan mengambil ikan-ikan itu satu per satu lalu dibawahnya ke atas dahan. Katanya, “Kuselamatkan kalian dari banjir, agar jangan tenggelam.”
Bagaimana kesudahannya? Ikan-ikan itu bukannya selamat tetapi mati lemas. Aneh, bukan? Sumber

Begitu Mudahnya Kita Berjanji

  • i
Alkisah, seorang pemabuk berjalan sempoyongan pulang ke rumah di malam hari. Di tengah jalan, ia dicegat oleh dua orang begal. “Serahkan semua uangmu!” kata salah satu dari perampok.
Si pemabuk dengan gemetar meraba-raba kantung bajunya untuk mencari sisa uang yang barangkali masih ada. Dengan setengah sadar, ia masih ingat sepertinya masih punya uang di kantung bajunya. Tapi, ia heran karena tangannya tak menemukan apa-apa.
“Kalau kamu tidak menyerahkan uangmu, kamu akan kami bunuh!” perampok kedua mengancam sambil menempelkan ujung pisaunya di leher si pemabuk. Dengan gemetar, si pemabuk menjawab, “Beri aku waktu sebentar.” Perampok itu menarik kembali pisaunya.
Pemabuk itu lalu berlutut di tanah, kedua telapak tangannya menengadah  ke langit. Ia berdoa di dalam hati, “Tuhan, tolonglah aku. Jika Engkau selamatkan aku dari para perampok ini, aku berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi.”
Begitu selesai berdoa, ia merasa ada sesuatu yang jatuh dari dalam bajunya. Ternyata sekeping uang perak. Menyadari bahwa ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia segera melanjutkan. “Tuhan, lupakan doaku.”
Ini hanya anekdot lawas. Mungkin Anda sering menjumpainya dalam versi yang berbeda. Seperti biasa, anekdot ini menyindir perilaku kita lewat kelakuan si pemabuk. Pemabuk itu menganggap uang yang jatuh di dalam bajunya bukan pemberian Tuhan atas doanya sehingga ia punya alasan untuk tetap mabuk-mabukan lagi.
Ini persis seperti kelakuan kita. Kita begitu mudah berjanji, sering kali atas nama Tuhan, dan begitu mudah pula melupakannya. Saat dilantik memegang jabatan atau profesi, kita bersumpah. Saat menikah, kita berjanji. Waktu berbisnis dengan orang lain, kita juga berjanji. Tapi betapa mudah kita melanggar janji yang sudah kita sepakati itu. Lebih buruk lagi, kita tidak pernah mau mengakui bahwa kita telah melanggar janji. Kita menganggap gaji yang kita terima atau kesetiaan pasangan itu sebagai uang koin yang jatuh begitu saja dari baju kita. Sumber

Jaga Kelebihan Yang Kita Miliki

  • i
Adalah sebuah kisah yang menceritakan kehidupan dari tiga makhluk yang sangat bersahabat satu sama lain. Mereka adalah si KKS: Kura-kura, Kodok, dan Kaki Seribu. Mereka adalah sobat karib, yang selalu kompak dan serasi. Setiap berjumpa dan berpisah mereka berseru: KKS, yes!
Suatu hari, Kura-kura membuat pesta kecil-kecilan pada hari ulang tahunnya. Dia hanya mengundang dua sobat karibnya itu. Mereka sangat senang, ngobrol, makan, minum, bergurau, dan banyak lagi yang mereka lakukan bersama. Sekarang tibalah mereka pada acara tiup lilin dan potong kue tart dengan tulisan KKS. Tiba-tiba si Kodok tersadar, “Lo, Ra, koreknya mana? Kamu kan mesti tiup lilin?”
Kura-kura juga baru ingat bahwa dia lupa beli korek api, “Iya, ya… maaf aku lupa tidak sediakan korek. Soalnya tadi belanja di mall, sulit dapat korek. Kalau begitu kamu saja yang beli Dok, warungnya dekat kan?”
“Lo kok aku sih? Kan tuan rumahnya, kamu Ra...” jawab Kodok menolak.
“Iya sih, tapi kan aku jalannya lambat dan santai. Kalau kamu kan bisa cepat dan dari jauh udah bisa beri isyarat kalau dapat atau tidak,” sahut Kura-kura.
“Ah, tidak bisa begitu dong. Aku 'kan undanganmu. Lagian kalau soal cepat, pasti si Kaki Seribu lebih cepat dari aku. Kakinya aja ada seribu!”
“Oh, iya ya. Kamu aja deh yang pergi, temanku Kaki Seribu ....”
“Kok jadi aku sih?” Kaki Seribu bermaksud menolak.
Akhirnya si Kaki Seribu pergi juga membeli korek api.
Si Kodok dan Kura-kura menunggu, sambil bercerita tentang apa saja. Mereka tertawa, gembira, dan saling bercanda. Lima menit menunggu, Si Kaki Seribu belum datang juga. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Satu jam … Ternyata sampai tiga jam sang Kaki Seribu belum nongol juga.
“Kok teman kita Kaki Seribu belum datang juga ya? Jangan-jangan dia mengalami kecelakaan di jalan, patah kaki separuh?” cemas Kodok.
“Iya nih, aku jadi kuatir, kita susul aja yuk,” ajak Kura-kura.
Saat si Kura-kura membuka pintu ternyata si Kaki Seribu sudah berada di depan pintu.
“Nah, ini dia!” kata Kura-kura.
“Iya nih dari tadi ditunggu. Sampai capek yang nunggu. Mana korek apinya?”
Kaki Seribu hanya bisa menjawab, “Boro-boro korek api.. Jalan saja belum..”
“Belum jalan? Memangnya dari tadi ngapain aja?” tanya teman-temannya.
Jawab Kaki Seribu, “Yeee… kamu enggak lihat nih, aku lagi pakai kaos kaki, belum sepatunya!”
Setiap manusia mempunya suatu ‘kelebihan’ dalam dirinya. Entah berupa kecantikan atau ketampanan wajah, keindahan badan, keindahan bentuk mata/hidung/alis/bibir, atau masih banyak yang lainnya. Atau mungkin juga kelebihan dalam hal kepandaian, menari, menyanyi, dan kepandaian lainnya.

Akan tetapi satu yang perlu diingat, setiap kelebihan juga sekaligus merupakan ‘kekurangan’ kita. Bila tidak berhati-hati dalam menjaga dan menggunakannya. Syukurilah apa yang menjadi kelebihan dalam diri kita. Kita jaga baik-baik, agar kelebihan kita dapat dipakai dengan benar. Dapat menjadi berkat untuk kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Sumber

Bahagia Atas Anugerah

  • i
Seorang anak kecil berjalan mendekati sebongkah batu besar dan bertanya, “Batu besar, apa pekerjaanmu?”
“Saya berbaring di atas tanah,” jawab batu besar.
“Bila malam hari tiba, apa yang kamu kerjakan?” tanya anak itu lagi.
“Saya berbaring di atas tanah.”
“Dan bila musim hujan tiba?”
“Saya tetap berbaring di atas tanah.”
“Kamu batu yang malang,” kata anak itu.
“Saya tidak merasa sedih,” jawab batu itu. “Saya bahagia menjadi sebuah batu. Sementara engkau berlompat-lompat dan berlari-lari, saya tetap berbaring. Saya tidak merasa kecewa. Saya tidak takut kegelapan malam. Anak kecil, dengarlah bahwa saya sangat bangga dan bahagia dengan cara saya seperti ini.”
Bangga pada diri sendiri atas anugerah apa pun yang diberikan-Nya, merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Sumber

Piagam Penghargaan

  • i
Seorang bapak keluarga sedang mengatur suatu ruangan yang baru saja selesai dibangun. Pikirnya, mungkin baik bila ruangan ini dijadikan sebuah museum keluarga untuk menempatkan semua piala dan piagam penghargaan yang telah diterima olehnya dan juga kedua anaknya. Kedua anaknya kerap kali memenangkan aneka perlombaan atletik.
Ketika ia sedang mengatur tanda-tanda penghargaan itu, ia berkata kepada istrinya yang ada di sampingnya. “Hanya kamu di dalam keluarga ini yang tidak mempunyai piagam penghargaan.”
Pada hari berikutnya, sang istri memasang surat akte kelahiran kedua anaknya yang sudah terbingkai rapi, di antara piagam-piagam yang lain.Sumber

Menolong Karena Cinta

  • i
Pada suatu hari anak lelaki Pangeran Junjung Bumi minum tuak sampai mabuk, lalu pergi menunggang kuda. Di tengah jalan kuda itu lepas kendali dan jatuh ke dalam jurang. Si anak lelaki terluka sangat parah namun berhasil diselamatkan oleh seorang tabib.
Karena rasa syukurnya, Pangeran Junjung Bumi memberikan banyak hadiah istimewa kepada sang tabib. Selang beberapa hari, di sebuah surat kabar lokal muncul kolom ucapan terima kasih dari Pangeran bagi sang tabib. Segera saja nama sang tabib menjadi terkenal di seluruh wilayah itu.
Beberapa waktu kemudian, sebuah surat dilayangkan oleh sang tabib kepada Pangeran. Bunyinya, “Pangeran telah memberi saya hadiah lebih dari cukup. Untuk itu semua, saya sangat berterima kasih. Namun demikian, saya merasa prihatin sewaktu membaca kolom ucapan terima kasih di surat kabar itu. Adakah Pangeran sebenarnya menyangsikan ketulusan hati saya dalam menolong?”
Berbahagialah orang yang menolong sesamanya semata-mata karena cinta Sumber

Dirimu Sendirilah Problemnya

  • i
Seorang mahasiswa yang amat tertarik akan negara-negara dunia ketiga pergi ke India. Ia mengalami cultural shock. Apa-apa saja dianggap mengganggunya: iklimnya, makanannya, kondisi hidupnya, penduduknya. Namun, yang sungguh-sungguh merisaukan adalah seekor cicak yang ada di kamarnya.
Ia sangat jengkel. Dengan berbagai cara ia mencoba menangkap cicak itu tapi tak berhasil. Cicak itu bersembunyi di belakang lemari. Dalam keputusasaannya itu, malah terbersit dalam benaknya, mengapa tidak berteman saja dengan si cicak itu.
Pertama-tama, ia memberi cicak itu sebuah nama. Lalu ia mencoba mengajaknya bicara. Ternyata ia menemukan hal-hal yang baik, salah satunya yaitu bahwa cicak memakan nyamuk dalam kamarnya.
Setelah beberapa hari, mahasiswa itu mulai sadar bahwa problemnya tidak datang dari luar dirinya, melainkan dari dalam dirinya. Sumber