Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

5 Okt 2011

Sekolah Alternatif di Desa yang Mendunia

  • i
Pernahkah Anda membayangkan manakala ada sekolah yang murid-muridnya bisa menentukan sendiri apa yang mau dia pelajari. Tidak ada jadwal pelajaran, tidak punya gedung sekolah, dan tidak ada laboratorium. Para siswa bebas melakukan apa yang mereka inginkan. Bahkan ada yang belajar sambil kaki di angkat di kursi. Pakaian yang dikenakan pun dibebaskan, alias tanpa seragam formal. Belajar pun serasa di rumah sendiri. Tidak dikekang dengan peraturan ini dan itu yang seringkali membatasi kreativitas siswa.

Adalah sekolah alternative Qaryah Thayyibah. Letaknya di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah. Sebuah komunitas belajar yang kini gaungnya telah terdengar di kancah dunia internasional. Sekolah ini digagas oleh Bahruddin, seorang yang sosoknya sangat sederhana berambut gondrong seperti layaknya seniman atau budayawan. Menurut beliau gagasan mendirkan sekolah alternative ini muncul atas dasar keresahan-nya mengenai mahalnya biaya pendidikan di tanah air. Pendidikan alternative “QT” merupakan konsep yang dikembangkan sendiri oleh Bahruddin berdasarkan pengalaman dan buku-buku yang dibacanya.

Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Kebijakan Pendidikan FIP – UNY di Gedung Auditorium UNY, Bahruddin banyak berbagi ilmu dan pengalaman terkait pendidikan alternative yang digagasnya itu. Dengan bersahaja beliau mengatakan sekolahnya seringkali menjadi rujukan ataupun tempat penelitian sekolah-sekolah formal, baik dari dalam negeri hingga bahkan luar negeri. Beberapa media nasional juga telah meliput profil sekolah alternative “QT”. Diantaranya Harian Kompas, Harian Suara Merdeka, Metro TV, Trans TV dan media lainnya.

Dalam seminar tersebut Bahruddin juga menceritakan sejarah berdirinya sekolah alternative Qaryah Thayyibah. Ungkapnya, sekolah alternative ini pada awalnya baru memiliki puluhan siswa setingkat SMP yang berasal dari Salatiga dan sekitarnya. Kini jangan ditanya lagi berapa jumlahnya. Bahkan kini siswa yang belajar di sekolah alternative ini berasal dari berbagai kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dsb. Uniknya para siswa disuruh tinggal di rumah-rumah penduduk. Berbeda dengan sekolah formal, di “QT” lingkungan sekitar dan masyarakatnya justru menjadi “sekolah” tempat menggali berbagai ilmu. Dengan kata lain QT merupakan sekolah kehidupan yang “membebaskan” siswanya.

Dalam hal ini Bahruddin telah mematahkan tudingan miring masyarakat terkait sekolah alternative. Bahruddin telah membuktikan bahwa tidak selamanya sekolah alternative itu sekolah yang “abal-abal”, bagi kaum miskin. Justru melalui sekolah alternative siswa lebih bebas berekspresi. Tidak terkekang atau terbelenggu dengan kurikulum dan segala peraturan yang ada seperti pada sekolah-sekolah formal. Di sekolah alternative “QT” para siswa setiap harinya diberikan kebebasan atas apa yang ingin mereka pelajari saat itu. Lalu para siswa disuruh untuk mencari sendiri sumbernya, termasuk melalui diskusi-diskusi (forum). Para siswa juga diarahkan untuk fokus menekuni minatnya hingga menjadi sebuah karya cipta.

Terbukti banyak siswa sekolah alternative “QT” yang telah menelurkan banyak karya di usianya yang masih tergolong belia itu. Mulai dari menulis buku hingga membuat film. Bahkan diantaranya telah mendapatkan berbagai penghargaan. Yang membanggakan lagi beberapa siswanya sudah biasa diminta berbicara di depan para pejabat publik. Sungguh sekolah alternative yang luar biasa. Sekolah alternative yang benar-benar mampu menerapkan prinsip pendidikan yang membebaskan.

Sekolah alternative Qaryah Thayyibah adalah potret sekolah ideal yang semoga mampu menginspirasi kita semua, khususnya para stake holder dan pembuat kebijakan pendidikan. Sistem pendidikan kita yang selama ini masih dirasa kaku dan membelenggu para siswa nampaknya memang perlu dievaluasi kembali secara menyeluruh. Sistem pendidikan “formal” yang ada selama ini terkesan terus menjejali siswa dengan berbagai pengetahuan, tapi akhirnya hanya mengendap di pikiran saja, bahkan seringkali terlupakan.

Pendidikan alternative “QT” memberikan inspirasi bahwa pendidikan harus membebaskan siswa untuk berkreasi. Mendidik siswa untuk menemukan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan bersama-sama merumuskan solusi bijaknya. Karena orang yang baik dan mulia bukanlah orang yang cerdas, kaya, terkenal, ataupun banyak prestasinya. Namun ia adalah orang yang mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitarnya. Disinilah kita semua belajar dari pendidikan alternative “QT”, teruslah belajar kepada kehidupan. Teruslah berguru kepada kehidupan dan berkaryalah untuk kehidupan yang lebih baik. kompasiana.com

0 comments:

Posting Komentar