Subscribe:

Ads 468x60px

Pages

9 Mar 2012

Memulai Kebajikan Walaupun Kecil

  • i
“Allah hu Akbar Allah hu Akbar… La illah ha illlah….” seruan terakhir panggilan sholat magrib dari muadzin masjid.
Seorang gadis yang masih betah berada di depan gadgetnya mulai merasakan suatu hal yang aneh. Ada rasa yang telah lama hilang dari hati, diri dan hidupnya. Rasa kerinduan yang mulai diinginkannya kembali. Dilihatnya satu per satu anggota keluarganya mulai beranjak ke arah masjid, mereka pergi tanpa dirinya.
“Mengapa mereka tidak mengajakku? Apakah aku harus sholat di masjid juga? Ah, sholat di rumah saja, lebih praktis, toh tidak ada bedanya, aku tetap melaksanakan sholat magrib tepat waktu” berbagai pikiran picik dan pembenaran singkat yang mulai meruntuhkan rasa kerinduannya.
Hingga salah satu benak gadis itu berkata “Sekarang atau tidak sama sekali!” Seruan keras yang terakhir itu menyentakkannya, membangunkannya dari lamunan. Dengan segera dia berlari menuju kamar mandi, mengenakan mukena dengan cepat sebelum keluar rumah, dan segera berlari menuju masjid.
Langkah lebarnya dipercepat, tersenggal nafas, tapi dia merasakan bahagia, seperti berlari mengejar ka’bah. Berlari mengejar seruan adzan yang telah selesai. Imam telah memulai sholat dan memimpin para jamaah. Dengan seketika si gadis ikut berbaris di syaf wanita.
Nafas yang masih tersenggal hilang berbaur dengan rasa bahagia, karena si gadis telah berhasil mengalahkan setan dalam hatinya, karena dia berhasil mengambil dan menentukan langkah yang luar biasa, mengalahkan dirinya sendiri.
Rahmat yang didapatkannya bukan hanya itu, rasa kerinduan itu mulai menutupinya. Cahaya lampu pijar di dalam masjid terasa semakin terang benderang, ketenangan akan khidmatnya sholat membuatnya melupakan semua dosa.
Ah ya, dosa, dia pernah menjadi seorang pendosa hebat, sama seperti orang-orang lainnya. “Allah… hamba kembali pada-Mu… benar-benar kembali padamu…”.
“Hamba rindu ka’bah ya Rabb… dan meskipun hamba belum pernah melihatnya langsung, namun hal ini sudah cukup membuat hamba bahagia serasa benar-benar telah melihat ka’bah”
Dulu sekali, ketika jiwanya masih lugu dan belum ternodai oleh kilaunya duniawi, si gadis pernah merasakan kebahagiaan bersujud malam, serasa bersujud di depan ka’bah. Pemandangan itu selalu dikenangnya, dan hingga akhirnya dia kembali menemukan jalan lurusnya, kembali bersujud di depan ka’bah.
Sholat magrib hari itu dilewatinya dengan kebahagiaan yang membuncah dan meluap-luap dari dalam hatinya. Dia bangga telah berhasil meraih kerinduan itu. Dan, ketika ibunya masih duduk menadahkan tangan, memohon dan berdoa pada Allah SWT, si gadis mendekatinya. Dengan lembut diraihnya tangan ibunda, diciumnya dengan penuh rasa penghormatan dan rasa kasih sayang.
“Ya Allah, betapa nikmat rahmat yang telah Engkau hadirkan hari ini…. Alhamdulillah…”
Hati, selalu dapat berubah bentuk dan berubah warna. Namun, bila masih ada kebaikan darinya, maka sekotor apapun tampaknya tetap akan terlihat seberkas cahaya dari dalamnya. Itulah yang disebut sebagai cahaya Illahi, Nur. Maka, jagalah hatimu dari keburukan duniawi.
Sedangkan Allah masih setia memberikan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk, maka, jangan pernah ragu untuk meraihnya :) terimakasihku

0 comments:

Posting Komentar